Rabu, 14 Januari 2009

Happy Birthday Myspace Comments
MyNiceSpace.com

Kamis, 08 Januari 2009

kesalahan dan kegagalan


Kesalahan, kegagalan, dan sejenisnya seringkali menjadi sebuah momok yang menghalangi seorang manusia untuk berkembang. Saat kita menghadapi suatu tantangan, yang sering terbayang adalah rasa takut akan gagal, sehingga membuat selalu takut berbuat salah. Akibatnya adalah keragu-raguan untuk mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah kita lakukan, sehingga membuat kita statis, tetap di tempat, dan tidak berkembang.

Sahabat…. Perlu kita fahami bersama bahwa segala sesuatu yang ada dimulai dari tidak ada, dan semua yang bisa dimulai dari tidak bisa (hal ini berlaku untuk semua kecuali Allah SWT). Apakah pemain sepak bola legendaris sekelas maradona sudah bisa bermain sepak bola sejak lahir? Apakah pembalap F-1 legendaris sekelas Michael Schumacher sudah mampu menyetir mobil F-1 sehebat itu tanpa belajar? Inilah yang harus kita renungkan. Bisa jadi selama ini kita tidak bisa melakukan sesuatu bukan karena kita tidak mampu, namun kemauan yang keras dan keberanian untuk gagal belum tertanam dalam diri kita. Kesalahan dan kegagalan adalah hal yang wajar dan itu adalah hak bagi setiap orang yang sedang dalam proses belajar. Tanpa kegagalan, maka kita tidak belajar. Tanpa kesalahan, maka tidak ada introspeksi dan evaluasi sehingga tidak ada perbaikan ke arah yang lebih baik. Lampu pijar tidak akan tercipta dari tangan Thomas Alva Edison tanpa kegagalan yang dibuatnya sebanyak 1000 kali. Seringkali kita menjadi seperti penambang emas yang sudah menggali tanah begitu dalam, karena tidak kunjung menemukan, maka sang penggali menyerah. Padahal ia tidak tahu bahwa emas yang dicarinya sudah tinggal beberapa sentimeter di bawahnya.

Bukankah kesalahan dan kegagalan menimbulkan sebuah pengorbanan? Uang habis, waktu terbuang, tenaga tersia-siakan. Sahabat…. Adalah sesuatu yang sangat wajar saat kita ingin mendapatkan sesuatu, maka kita harus mengorbankan sesuatu juga. Begitu pula dalam proses belajar. Jika ingin menjadi lebih baik, pengorbanan itu adalah sesuatu yang wajib dilakukan. Jika tidak mau berkorban, jangan harap menjadi lebih baik, karena tanpa pengorbanan, maka tidak ada proses belajar. Namun yakinlah…. Pengorbanan yang kita keluarkan untuk belajar, walau gagal, tidaklah menjadi sesuatu yang sia-sia, karena dengan kegagalan kita bisa mengevaluasi diri sehingga terjadi perbaikan. Jadi, pengorbanan kita bukan untuk membayar kegagalannya, namun untuk membayar proses belajarnya. Itulah yang telah dicontohkan oleh pejuang kemerdekaan indonesia di masa lalu, yang bahkan harus membayar dengan nyawanya demi kemerdekaan Indonesia, dimana perjuangan para pahlawan menemui kegagalan demi kegagalan hingga akhirnya Indonesia berhahil menjadi negara yang mandiri pada 17 Agustus 1945. Pada kenyataannya, para pahlawan yang gugur tidaklah gugur dengan sia-sia, karena setiap nyawa yang dikorbankan memberikan inspirasi kepada pejuang lain untuk terus maju, tidak kenal menyerah, dan pantang mundur.

Dari ilustrasi di atas, dapat kita lihat bahwa sesungguhnya sebuah kesalahan atau kegagalan tidak membuat kita rugi, namun sebaliknya, membuat kita untung. Karena menambah kesempatan kita untuk belajar dan berkembang menjadi lebih baik, minimal tidak mengulangi kesalahan yang sama di lain waktu. Tinggal bagaimana kita mengubah Mindset kita tentang makna kesalahan dan kegagalan itu sendiri. Saat kita bisa memaknai kesalahan dan kegagalan sebagai invertasi, maka di situlah kita menjadi seorang pembelajar sejati

Rabu, 07 Januari 2009

cinta pada Allah


Bukti Cinta Allah kepada Hamba-Nya Ada dua cinta yang hakiki dan tak pernah luntur, yaitu cinta Allah kepada hamba-Nya dan cinta ibu terhadap anaknya. Namun keduanya memiliki nilai berbeda. Cinta Allah itu adalah cinta yang tidak terbatas. Hakikat dan besarnya tidak bisa dipersamakan dengan kasih sayang siapa pun. Allah SWT berfirman, ”Rahmat (kasih sayang)-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS Al-A’raf [7]: 156).
Untuk memberikan gambaran kepada umat tentang kasih sayang Allah, Rasulullah mengibaratkan kalau kasih sayang Allah itu berjumlah seratus, maka yang sembilan puluh sembilan disimpan dan satu bagian lagi dibagi-bagi. Yang satu bagian bisa mencukupi seluruh kebutuhan makhluk. Hal ini menunjukkanbetapa luasnya cinta Allah. Ada beberapa bukti nyata-dari banyak bukti-tentang besarnya cinta Allah kepada manusia.
Bukti cinta yang pertama adalah diturunkannya Alquran. Allah SWT, AlKhaliq tidak membiarkan kita kebingungan dalam menjalani hidup. Dia menurunkan Alquran sebagai penuntun hidup, agar kita dapat meraih bahagia di duniadan akhirat. Firman-Nya, ”Kitab ini tidak ada keraguan padanya; (merupakan) petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al Baqarah [2] : 2). Dalam ayat lain difirmankan pula, ”Sebenarnya Alquran itu adalahkebenaran (yang datang) dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu;agar mereka mendapat petunjuk.” (QS As-Sajdah [32]: 3).
Dr Quraish Shihab mencatat ada tiga petunjuk penting yang diberikan Alquran. Pertama, petunjuk akidah yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Allah dan kepercayaan akan kepastian hari pembalasan. Kedua, petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan danmoral, baik yang menyangkut kehidupan pribadi maupun sosial. Ketiga, petunjuk mengenai syariat dan hukum, yaitu dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum dalam hubungannya dengan Allah dan sesama manusia. *Mengutus para rasul* Secara fitrah, setiap manusia membutuhkan teladan yang bisa dijadikan rujukan. Untuk memenuhi kebutuhan itulah, Allah mengutus para Rasul.
Dalam QS Al An’am [6] ayat 48, Allah SWT berfirman, ”Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Inilah bukti kecintaan Allah yang kedua. Dia tidak membiarkan manusia berjalan “sendirian”. Dia mengaruniakan “teman terbaik” yang akan menemani manusia menuju jalan kebahagiaan, mengenalkan manusia kepada Tuhannya, sekaligus menjadi model manusia yang sesuai dengan kehendak Allah SWT. Firman-Nya, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS Al Ahzab [33]: 21). Kita yang hidup tidak sezaman dengan Rasulullah SAW, dapat membuka warisannya berupa hadis dan sunah.
Di dalamnya terdapat penjelasan yang rinci tentang semua ajaran Allah. Ajaran yang berisi tentang petunjuk menjalin hubungan dengan Allah (*hablum minallah*) dan dengan manusia (*hablum minannas*). Di dalamnya kita juga mendapati gambaran karakter mulia Rasulullah SAW sebagai teladan paling baik. *Diciptakannya alam semesta* Allah SWT tidaklah menciptakan alam semesta tanpa maksud. Dia menjadikan semua yang ada di bumi dan di langit untuk memenuhi kebutuhan manusia. Difirmankan, Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia menuju langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al Baqarah [2]: 29). Seluruh potensi yang ada di dalam dan permukaan bumi dihamparkan untuk diambil manfaatnya oleh manusia.
Tidak ada satu pun makhluk di alam ini yang tidak bermanfaat. Nyamuk misalnya. Walaupun menganggu, nyamuk dapat membangkitkan kreativitas manusia, obat nyamuk contohnya. Dengan adanya nyamuk, banyak orang yang tercukupi ekonominya. Allah telah menciptakan alam dengan sangat sempurna, sehingga manusiadapat hidup di dalamnya dengan nyaman. Semuanya telah ditata dengan akurat. Perjalanan siang dan malam, rantai makanan antara makhluk hidup sampaipada lingkungan tempat ia hidup, semuanya telah diatur dengan hukum-Nya. *Luasnya ampunan Allah* Bukti keempat adalah luasnya ampunan Allah SWT. Sebanyak apa pun dosa manusia, Allah pasti akan mengampuni, asalkan ia betul-betul bertobat.
Allah SWT telah berjanji dalam Alquran, ”Dan hendaklah kamu meminta ampunkepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS Hud [11]: 3) Tangan Allah terbuka setiap saat bagi orang yang mau bertobat. Rasulullah SAW bersabda, “Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orangyang berbuat keburukan di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat keburukan di malam hari bertobat. (Ini akan terus berlaku) hingga matahari terbit dari arah Barat (HR Muslim). Dia akan mengampuni semua dosa, sekalipun dosanya sepenuh isi bumi, “Wahai manusia, sekiranya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi kemudian kamu bertemu Aku dengan dalam kedaan tidak menyekutukan Akudengan sesuatu apa pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan seisi bumi pula,” demikian bunyi sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Tirmidzi. *Memberikan rezeki* Allah adalah Al Razzaq, Dzat Maha Pemberi Rezeki. Setiap makhlukdiberi-Nya rezeki agar mereka dapat hidup dan beribadah kepada Allah SWT. Tidak ada satu pun makhluk yang tidak diberi rezeki, termasuk manusia.
Firman-Nya, Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapayang dikehendaki-Nya)’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allahakan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS Saba [34]: 39). Demikian pula makhluk yang lain. ”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).” (QS Hud [11]: 6) Inilah tanda bukti cinta Allah yang kelima. Setiap kita telah diberibagian rezeki. Yang perlu dilakukan adalah ikhtiar menjemput rezeki itu. Allah memberi kasih sayang-Nya yang tak terbatas agar kita bersyukur. Dan syukur yang paling utama adalah mengabdi dengan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. *Wallahu a’lam*.